Selasa, 18 Desember 2012

Kader PMII Harus Sukses Multi Karir

Effendy Choirie (Sekjend IKA PMII)
BANDARLAMPUNG – Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus menularkan virus energi positif, mendorong dan memberi inspirasi. Disisi lain, juga diharapkan mampu masuk dan menguasai semua sektor, baik itu birokrasi, akademisi, maupun politik praktis. Kendati demikian, mendorong jiwa entrepreneurship kader juga harus menjadi prioritas, sehingga bisa menjadi bekal untuk dapat menciptakan lapangan kerja.

Sekretaris Jendral Pengurus Besar (PB) Ikatan Alumni (IKA) PMII Dr Efendi Choiri mengatakan secara alamiah kader PMII harus memiliki sayap dimana-mana. Pasalnya, PMII merupakan sumber daya manusia (SDM) warga Nahdiyin yang bukan hanya terjun, tapi juga kader yang menjadi instrument Negara.

“Kita mengakui saat ini banyak kader PMII yang menduduki posisi-posisi strategis di birokrasi, ada juga yang jadi akademisi, demikian juga di ranah politik praktis. Tapi sedikit sekali yang menjadi pengusaha,” ungkap Gus Cho’i (sapaan akrap Efendi Choiri) saat menggelar silaturahmi dengan seluruh pengurus IKA, Pengurus Cabang (PC), dan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Lampung di Kampung Bambu, Senin malam (17/12).

Untuk itu, lanjutnya, IKA PMII merupakan lokomotif yang berkewajiban mendorong setiap kader, sehingga PMII ada dimana-mana. “Kader PMII jangan menyesal kendati belum jadi apa-apa. Berdasarkan data dari intelligent, 92 persen warga Lampung muslim. Sebanyak 52 persennya warga Nahdlatul Ulama (NU). Ini menjadi peluang untuk kita semua. Karena itu dalam konteks kepemimpinan sangat strategis,” jelas anggota Komisi I DPR RI ini diamini Ketua IKA PMII Lampung Noverisman Subing.

Untuk ulama, kata Gus Cho’I, NU masih terbesar, yang masih kosong adalah pengusaha. Dari sekian banyak kader PMII, menurutnya harus ada yang menjadi pengusaha. “Kalau suatu saat pola pikir pragmatis masyarakat ini tidak tertolong, para pengusaha ini lah yang nantinya bisa menyokong kader PMII yang layak untuk dijadikan pemimpin,” harapnya.
Mantan wartawan ini menuturkan PMII merupakan organisasi yang lahir dari rahim NU dan merupakan bagian dari civil society. Harus ada instrument mahasiswa di kampus yang berpikir independen, terus menerus disesuaikan keadaan, bersifat demokratis, terus menerus tidak permanen. “Dalam konteks ini, jangan takut adanya perbedaan, karena itu merupakan proses pematangan jiwa,” terangnya.

Lebih jauh ia mengingatkan bila Nabi Muhammad 27 tahun sebelum menjadi Rasulullah merupakan seorang pedagang. “Ini menunjukan bila berwirausaha merupakan salah satu langkah positif untuk menjadi sukses,” kata dia.

Meski begitu, harus didukung pula dengan kader yang bergerak di ranah politik. Karena terjun kepolitik merupakan jalan pintas untuk memiliki sesuatu, jalan pintas untuk memberi sesuatu, dan jalan pintas untuk memobilisasi kader menjadi sesuatu.

Untuk itu, perlu diciptakan suatu forum yang rutin membicarakan tentang entrepreneurship dan harus segera dimulai. “Untuk kurikulum pergerakan juga harus dimasukan materi kewirausahaan ini,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, salah satu pengurus IKA PMII Ari Munawar mengatakan bila wacana kewirausahaan sudah dibahas sejak tahun 1990. Sayangnya, wacana ini menjadi pemikiran yang belum disahuti. “Hari ini materi pembelajaran PMII masih berkutat pada silabus yang lama. Untuk itu, harus ada penambahan dalam silabus yang disesuaikan dengan era dan zaman. Sehingga produk-produk PMII bisa menjadi kader yang mumpuni dan benar-benar unggul disegala sektor,” tanggapnya.

Demikian juga diungkapkan Ketua GP Ansor Lampung Khaidir. Menurutnya saat ini banyak laboratorium politik yang dijadikan pembelajaran informal kader PMII. “Tidak dapat disalahkan juga karena banyak kader belajarnya pada politisi, sehingga doktrin yang masuk politik. Saya kira perlu ada terobosan. IKA PMII ini merupakan wadah akumulasi modal kader yang bias menjadi stimulan alumni yang ingin mendarmabaktikan ilmunya,” kata dia.
Pada kesempatan yang sama, salah satu anggota KPU Provinsi Lampung Solihin membagi tiga kunci sukses kepada kader PMII. Menurutnya, kunci sukses yang pertama adalah kemampuan intelektual, kedua ilmu pergaulan, dan ketiga ilmu kemasyarakatan. “Ketiga itu harus seiring sejalan. Percuma saja ilmu kita tinggi tapi dalam bermasyarakat tidak bias,” tuntasnya.
sumber : Lampoeng NewsPaper

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Assalamualaikum salam pergerakan kunjungi Pula web IKA PMII Provinsi Lampung https://ikapmiilampung.wordpress.com
Terima kasih
Wassalam mu’alaikum